Tidak terbilang jasamu dengan jemari ini Kau curahkan ilmu untuk anak watan yang masih tercari-cari dimanakah arah ke masa depan yang mendatang.
Baktimu... jasamu... tak dapatku balas wapau dengan ribuan ucapan penghargaan masih tidak bisa membalas jasamu
Kendatipun ucapan itu tidak bisa tercapai seperti mana pengorbananmu terhadapku aku harap ungkapan emas itu bisa jua meraih senyummu.
Kau, insan teristimewa mendoakan aku jua rakan-rakan terus mengapai langit meninggi dengan harapanku mampu menggenggam sebuah kejayaan berkat usaha dan iltizam.
Kau, insan serupa ibu dan ayah ju tahu betapa beratnya pundakkmu memikul beban amanah dan tanggunggjawab Namun, tetap jua kau gagahi walau terkadang memakan dirimu sendiri.
Terima kasih guru, kerna dirimu membuatkanku berjaya
Terima kasih guru, ku senantiasa mendoakan kebahagiaanmu dunia dan akhirat...
Lahirnya ke dunia diambut senyuman bonda dan diazan serta diiqamat oleh ayahanda si kan putih yang belum tercorak.
Dilalui saat-saat kecilnya, remajanya, dewasanya DAN tuanya.
Disaat kecilnya, belaian kasih bonda dan ayahanda tak pernah kontang...
Disaat remajanya mengenali jati diri...
Disaat dewasanya, punya tanggunggjawab besar...
seperti roda yang berputar, akhirnya sampai jua waktu senja...
Disaat itu, seluruh tubuh tidak bermaya, penglihatan kian sempit pancaindera kian menyepi tak lagi bisa berbuat apa hanya mampu berharap pada generasi kelahirannya setiap insan pasti mencapai penghujung hayatnya namun, saat itu hanya tuhan yang menentukan.
Yang bisa kita lakukan sepanjang usia kita adalah berusaha dan sentiasa mengingati Allah serta mengerjakan amar makruf nahi mungkar.
BUAT INSAN TERISTIMEWA
ReplyDeleteTidak terbilang jasamu dengan jemari ini
Kau curahkan ilmu untuk anak watan
yang masih tercari-cari dimanakah arah
ke masa depan yang mendatang.
Baktimu...
jasamu...
tak dapatku balas
wapau dengan ribuan ucapan penghargaan masih tidak bisa
membalas jasamu
Kendatipun ucapan itu tidak bisa tercapai seperti mana pengorbananmu terhadapku
aku harap ungkapan emas itu bisa jua
meraih senyummu.
Kau, insan teristimewa
mendoakan aku jua rakan-rakan
terus mengapai langit meninggi
dengan harapanku mampu
menggenggam sebuah kejayaan
berkat usaha dan iltizam.
Kau, insan serupa ibu dan ayah
ju tahu betapa beratnya pundakkmu memikul
beban amanah dan tanggunggjawab
Namun, tetap jua kau gagahi walau terkadang memakan dirimu sendiri.
Terima kasih guru,
kerna dirimu membuatkanku berjaya
Terima kasih guru,
ku senantiasa mendoakan kebahagiaanmu dunia dan akhirat...
PETANI
ReplyDeleteTerima kasih petani...
yang senantiasa bersama
Sang bendang
menanti hasilnya untuk kami
Terima kasih petani...
diatas penat lelah jua keringat
yang membasahi bumi
kerana baktimu
kami masih bisa
menikmati sebutir beras
pada esok hari.
Nukilan,
Marlineh Masdin
SETIAP INSAN PASTI MENCAPAI PENGHUJUNG HAYATNYA.
ReplyDeleteLahirnya ke dunia
diambut senyuman bonda
dan diazan serta diiqamat oleh ayahanda
si kan putih yang belum tercorak.
Dilalui saat-saat kecilnya, remajanya, dewasanya
DAN
tuanya.
Disaat kecilnya, belaian kasih bonda dan ayahanda tak pernah kontang...
Disaat remajanya mengenali jati diri...
Disaat dewasanya, punya tanggunggjawab besar...
seperti roda yang berputar, akhirnya sampai jua waktu senja...
Disaat itu, seluruh tubuh tidak bermaya,
penglihatan kian sempit
pancaindera kian menyepi
tak lagi bisa berbuat apa
hanya mampu berharap pada generasi kelahirannya
setiap insan pasti mencapai penghujung hayatnya
namun, saat itu hanya tuhan yang menentukan.
Yang bisa kita lakukan sepanjang usia kita
adalah berusaha dan sentiasa mengingati Allah
serta mengerjakan amar makruf nahi mungkar.
NUKILAN,
Marlineh Masdin
MERDEKA INI
ReplyDeleteSemboyan telah berbunyi
bergema laungan 'MERDEKA'
menanti perkhabaran perutusan
menyatukan hati warga perpaduan
Negara berdaulat...
negara bertuah...
pelbagai kaum dan budaya
disatukan diatas bumi tercinta, Malaysia
Dengan landasan kemerdekaan,
jiwa sesama rakyat bersatu jua
dibawah panji 1 MALAYSIA
merdeka ini kita kekalkan
Merdeka kita yang sebenar
ialah
pabila jiwa kita menjadi satu.
NUKILAN,
MARLINEH MASDIN
SAYONARA SALAM PERPISAHAN
ReplyDeleteMeskikah sebutir permata itu menjadi rebutan?
tatkala yang kaca itu tak diendahkan
Meskikah kita cuba mengapai langit yang tinggi?
sedangkan kita masih jauh dari destinasi
Barangkali sirna hari ini masih bisa
kita rasai kehangatannya,
itu tidak beerti esok mentari memancarkan cahayanya.
Pertemuan kali pertama
membungakan halaman hati
senyuman yang terukir tanda persahabatan
antara insan yang bersua
Namun setiap pertemuan yang mengembirakan
pasti terbit jua kesedihan
karena perpisahan itu sesuatu yang pasti.
sayonara...
ungkapan perpisahan yang sukar dilafazkan
moga ada waktu ketemu jua
setelah terpisah dari pandangan mata.
Segala yang terjadi telah ditakdirkan
titian perjalanan kita telah tertulis
pada qada dan qadar...
NUKILAN,
MARLINEH MASDIN